Saat kaum muslimin telah mencapai puncak peradabannya, Barat/ Eropa masih bergumul dengan kegelapan dan kebodohan. Setelah mereka belajar berbagai ilmu dari peradaban Islam, baru kemudian mereka beranjak maju.
Sayangnya kemajuan yang mereka terima dari dunia Islam tidak dibarengi dengan penghargaan terhadap dunia Islam. Seringkali Barat mencuri ilmu dari kitab-kitab karangan para ilmuwan muslim, lalu mereka klaim sebagai penemuan mereka sendiri.
Tak satupun nama cendekiawan muslim yang kemudian mereka akui. Lalu, penemuan apa saja yang Barat klaim sebagai hasil karya intelektual milik mereka? Berikut ini beberapa di antaranya.
Ilmuwan muslim Ibnu An Nafis menemukan peredaran darah di tubuh manusia pada 1242 di Damaskus. Namun belakangan, penemuan tersebut malah diklaim oleh orang Eropa bernama William Harvey pada 1628, atau 386 tahun setelah Ibnu An Nafis pertama kali memperkenalkan.
Eropa baru mentranslasi buku milik An Nafis – penemuan yang membahas secara detil peredaran darah pada paru-paru, yakni pada tahun 1500.
iImuwan Islam Ibnu Al Haytsam menemukan prinsip optik pada 1021. Ia menulis buku tentang optik sepanjang 7 jilid. Bukunya menjelaskan cara bagaimana cahaya memasuki mata, bagaimana lensa mata bekerja. Di belakang hari, Eropa baru menerjemahkan bukunya pada 1200-an.
Roger Bacon kemudia mengklaim penemuan ini pada 1267, atau 246 tahun belakangan. Tetap saja, buku-buku teks fisika modern menuliskan bahwa Bacon-lah penemu prinsip optik dan tidak pernah memberikan kredit kepada Ibnu Al Haytsam.
Ibnu Al Haytsam pula pada tahun 1000 memberikan pedoman bahwa para pencari kebenaran harus meragukan segala sesuatu, dan mengujinya dalam sebuah eksperimen, serta memverifikasi hasilnya. Ini adalah fondasi dasar dari metode ilmiah.
Orang-orang Eropa mempelajari prinsip ini dari buku milik Al Haytsam. Namun kemudian orang Eropa bernama Francis Bacon yang justru diabadikan sebagai penemu metode ilmiah pada 1620. Padahal jelas ketinggalan 620 tahun dari penemuan Al Haytsam.
Ilmuwan muslim lain asal Baghdad, Al Khwarizmi, menulis kitab Al Jabar pada tahun 820. Eropa baru menerjemahkan kitab ilmu matematika itu pada tahun 1100 dan menyebutnya dengan nama Algebra. Tidak ada kredit bagi Al Khwarizmi.
Di bidang kimia, ilmuwan muslim lain bernama Jabir Ibn Hayyan dari Baghdad menemukan kimia sebagai ilmu eksperimental pada tahun 800-an. Hayyan pula yang memperkenalkan eksperimen yang sistematis, alat-alat laboratorium serta pendokumentasian. Eropa baru berhasil menerjemahkan bukunya pada tahun 1100-an.
Tanpa malu, Robert Boyle mengklaim penemuan kimia modern pada 1661. Klaim yang terlambat 800 tahun dari penemuan aslinya. Tak ada kredit sedikitpun bagi Hayyan.
Rentetan peristiwa ini bukanlah satu kebetulan, melainkan menjadi pola berulang. Bukan sebuah ketidaksengajaan, melainkan merupakan pencurian terhadap hak intelektual yang dilakukan secara sistematis oleh Barat. Yang pasti, kisah inii tak mereka ungkapkan di kelas–kelas pelajaran sejarah resmi di sekolah mereka.
















