Di saat Perang AS – Israel dengan Iran berkecamuk, mengemuka pula isu sektarian di kalangan umat Islam, yang bisa meruncingkan kembali pertikaian di antara negara berpenduduk Sunni/ Ahlu As Sunnah (negara-negara Teluk) dengan negara berpenduduk mayoritas Syi’ah (Iran).
Konflik antara Sunni – Syi’ah sendiri bila ditelusuri jauh ke belakang, sudah terjadi sejak lebih dari 5 abad silam. Berikut rangkaian kronologinya
Perang Chaldiran (1514)
Dimulai ketika Kekhilafahan Utsmani menaklukan wilayah Dinasti Safawi di daerah Chaldiran di wilayah Iran pada 1514. Saat itu, Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmani memutuskan untuk menyerang Safawi karena penguasa Safawi saat itu, Shah Ismail I mengirim agen-agen propaganda (disebut Da’i) ke wilayah Anatolia (Turki) yang dikuasai Ottoman.
Mereka berhasil menghasut suku-suku Turkoman (kelompok Qizilbash) untuk memberontak melawan Sultan. Bagi Selim I, ini adalah ancaman eksistensial karena rakyatnya sendiri mulai berpihak pada pemimpin Persia tersebut.
Pada 23 Agustus 1514, kedua pasukan bertemu di dataran Chaldiran. Pasukan Safawi: Mengandalkan kavaleri elite Qizilbash yang sangat berani tetapi hanya menggunakan pedang dan panah. Mereka menganggap senjata api adalah alat “penakut.”
Adapun pasukan Ottoman: Sudah menggunakan teknologi modern berupa meriam dan infanteri Janissari yang bersenjata senapan musket. Alhasil, artileri Ottoman membantai kavaleri Safawi. Shah Ismail hampir tertangkap dan terpaksa melarikan diri, sementara istrinya ditawan oleh Selim.
Kemenangan ini memberikan kendali atas Anatolia Timur kepada Ottoman, dan menjadi alasan mengapa Shah Ismail tidak pernah lagi memimpin pasukannya secara langsung di medan perang, karena trauma akan kekalahan tersebut.
Perang Dua Irak (1532–1535)
Ini adalah merupakan perang besar pertama Sultan Sulaiman (putra Sultan Selim I) ke wilayah Safawi. Setelah berhasil menaklukan Beograd, Pulau Rhodes, sebagian Hongaria (perang Mohacs), dan Afrika Utara, Sulaiman dikejutkan dengan pembunuhan Gubernur Baghdad Elfrasiyab oleh Dinasti Safawi yang saat itu dipimpin oleh Shah Tahmasp (Putra Shah Ismail). Sebelumnya, Elfrasiyab secara rahasia menyataan kesetiaan kepada Sulaiman. Ini merupakan penghinaan bagi otoritas Utsmaniyah
Selain itu, Gubernur Azerbaijan bernama Ulama Khan juga melarikan diri ke istana Suleiman di Istanbul. Ia meyakinkan Suleiman dengan mengatakan bahwa pertahanan Safawi sedang lemah dan rakyat Azerbaijan akan menyambut pasukan Utsmaniyah sebagai pembebas.
Suleiman berhasil merebut Baghdad dan Tabriz. Di momen inilah Irak secara resmi jatuh ke tangan Utsmaniyah, memberikan mereka akses ke Teluk Persia. Namun, Shah Tahmasp I tetap menggunakan taktik menghindar dan tidak mau menyerah.
Perang Azerbaijan (1548–1549)
Suleiman kembali menyerang karena merasa Shah Tahmasp terus mencoba merebut kembali wilayah yang hilang.Shah Tahmasp menerapkan strategi Bumi Hangus secara ekstrem. Ia membakar semua lahan di Azerbaijan agar pasukan Suleiman tidak punya makanan. Alhasil, meskipun Suleiman sempat menduduki Tabriz lagi, ia terpaksa mundur karena musim dingin yang mematikan dan kelaparan hebat di kalangan pasukannya.
Perang Nahchivan (1553–1554)
Ini adalah serangan terakhir Suleiman. Ia sangat marah karena Safawi terus melakukan serangan gerilya ke wilayah perbatasan Utsmaniyah. Karena pasukan Utsmaniyah mulai jenuh. Moral prajurit Janissari menurun karena perang di pegunungan Iran dianggap sangat melelahkan dan tidak membuahkan hasil yang permanen.
Akhirnya Suleiman menyadari bahwa selama Shah Tahmasp menolak bertempur secara terbuka dan terus mundur ke pedalaman, kemenangan total tidak akan pernah tercapai.
Perjanjian Amasya (1555)
Setelah menyadari bahwa kedua belah pihak sudah sama-sama lelah (stalemate), diplomasi akhirnya dimulai. Pihak Utsmaniyah membutuhkan perdamaian untuk fokus kembali ke front Eropa (melawan musuh Habsburg).
Adapun alasan Safawi karena membutuhkan stabilitas untuk membangun kembali negara yang hancur akibat taktik bumi hangus. Keduanya sepakat untuk membagi wilayah dan tidak saling berperang
Perang Utsmaniyah-Safawiyah Kembali Pecah (1578–1590)
Melihat Dinasti Safawi sedang kacau akibat perang saudara, Sultan Murad III (cucu Suleiman) memutuskan untuk melanggar Perjanjian Amasya. Utsmaniyah melancarkan serangan besar dan berhasil merebut wilayah Azerbaijan, Georgia, dan bahkan ibu kota lama Safawi, Tabriz.
Perjanjian Istanbul (1590)
Shah Abbas I, yang baru naik takhta dalam kondisi negara yang hancur, terpaksa menandatangani perjanjian yang sangat memalukan. Ia menyerahkan hampir seluruh wilayah barat laut Persia kepada Utsmaniyah demi mendapatkan waktu untuk berbenah.
Serangan Balik Shah Abbas (1603)
Setelah merasa militernya cukup kuat dan melihat Utsmaniyah sedang sibuk menghadapi pemberontakan Jelali di Anatolia serta perang panjang melawan Habsburg di Eropa, Shah Abbas meluncurkan serangan kejutan. Ia berhasil merebut Tabriz (1603), mengepung Yerevan & Baku. Lalu ia terus bergerak maju merebut wilayah Kaukasus.
Shah Abbas Merebut Baghdad (1623)
Puncak dari serangan baliknya terjadi ketika ia memanfaatkan pemberontakan perwira Utsmaniyah di Baghdad. Shah Abbas mengepung kota itu dan berhasil merebutnya kembali setelah hampir 90 tahun dikuasai Utsmaniyah. Kemenangan ini mengembalikan martabat Safawi sebagai kekuatan besar di Timur Tengah.
Penaklukan Kembali Baghdad oleh Sultan Murad IV (1638)
Sultan Murad IV (berkuasa 1623–1640) adalah sosok yang dikenal sebagai “Penakluk Baghdad” kedua dan sering dijuluki sebagai “Pendiri Kedua Daulah Utsmaniyah” karena keberhasilannya memulihkan otoritas negara yang sempat runtuh. Ia melakukan pengepungan 40 hari terhadap wilayah Safawi. Setelah pengepungan yang intens, Baghdad akhirnya takluk pada 25 Desember 1638.
Setelah menang ia melakukan ritual yang sama dengan kakek buyutnya. Suleiman, Murad IV segera berziarah dan memerintahkan renovasi makam Imam Abu Hanifah serta Abdul Qadir al-Jilani yang sebelumnya dirusak oleh pasukan Safawi.
Perjanjian Zuhab (1639)
Kemenangan Murad IV berujung pada tercapainya Perjanjian Zuhab (juga dikenal sebagai Perjanjian Kasr-i Shirin), yang menetapkan batas wilayah permanen antara Turki, Irak, dan Iran, yang sebagian besar batas itu masih bertahan hingga hari ini.

















