Angin gurun bertiup kencang di lembah Yarmuk. Di balik kabut debu perang, dua pasukan besar saling berhadapan. Di satu sisi, barisan kaum Muslimin dipimpin oleh Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu, sang Pedang Allah yang terhunus.
Di sisi lain, berdiri pasukan Bizantium, megah dengan bendera salib, di bawah pimpinan George bin Todzira, panglima perang Romawi yang disegani.
Sebelum pedang dihunus dan panah dilepaskan, terjadi peristiwa yang mengguncang sejarah. George memanggil Khalid bin al-Walid. Dua panglima besar itu bertemu di tengah padang pasir yang luas, sementara ribuan pasang mata menyaksikan dari kejauhan.
Keduanya saling menatap dengan wibawa yang sama besar — dua pemimpin, dua keberanian, dua keyakinan yang sedang diuji. George membuka pembicaraan dengan nada yang tegas namun jujur.
“Wahai Khalid, aku ingin engkau menjawab dengan kejujuran seorang merdeka. Apakah benar Tuhan kalian menurunkan pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu beliau memberikannya kepadamu hingga engkau tidak pernah kalah?”
Khalid tersenyum tipis dan menjawab, “Tidak, wahai George. Aku tidak memiliki pedang dari langit. Namun Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang dihunuskan terhadap orang-orang musyrik.’ Maka beliau menamakan aku Saifullah, Pedang Allah. Aku hanyalah hamba yang Allah jadikan alat untuk menegakkan agama-Nya.”
George terdiam, matanya menatap tajam. Ia merasakan ketulusan yang tidak dibuat-buat dalam ucapan Khalid. Lalu ia bertanya lagi,
“Kepada apa engkau menyeruku, wahai Khalid?”
Khalid menjawab mantap, “Kepada kalimat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.”
George terus bertanya — tentang iman, tentang keadilan Islam, tentang ganjaran bagi orang yang baru masuk Islam.
Khalid menyampaikan risalah Islam kepada George. “Bagaimana kalau orang tidak menerima seruan kalian itu?” tanya George. “Jizyah menjamin mereka” jawab Khalid. “Bagaimana kalau mereka tidak mau menyerahkannya (Jizyah)?” Tanya George lagi. “Kami ‘hadapi’ mereka” jawab Khalid lagi.
Dan setiap jawabannya dari lisan Khalid, jujur, sederhana, dan penuh hikmah. Hingga George bertanya, “Apakah orang yang baru memeluk Islam hari ini akan mendapatkan pahala yang sama dengan kalian yang lebih dahulu beriman?”
Khalid menjawab, “Bahkan bisa lebih utama. Karena kami beriman ketika melihat Nabi kami dan mukjizatnya. Sedangkan kalian beriman tanpa pernah melihatnya. Jika iman kalian tulus, maka derajat kalian bisa melampaui kami.”
George tertegun lama. Ia menatap langit, lalu menunduk. Suara angin padang pasir terasa seperti bisikan kebenaran. “Demi Tuhan, engkau tidak berbohong padaku, wahai Khalid?”
“Demi Allah,” jawab Khalid, “aku tidak menipumu. Aku hanya ingin engkau mendapat petunjuk sebagaimana kami mendapatkannya.”
Saat itulah, cahaya hidayah menembus hatinya. George menatap Khalid dan berkata dengan suara bergetar, “Ajarkanlah aku tentang Islam.”
Khalid membawanya ke tendanya. Ia menyiapkan air untuk wudhu, dan George bersuci. Kemudian ia berdiri menunaikan dua rakaat shalat — sujud pertamanya di hadapan Allah, dan juga sujud terakhirnya di dunia.
Ketika pertempuran meletus, George berbalik arah, berdiri di sisi Khalid bin al-Walid, melawan pasukan yang dulu ia pimpin. Pedang yang semula menghunus ke arah kaum Muslimin, kini berbalik melindungi mereka.
Ia berperang dengan keberanian luar biasa hingga akhirnya jatuh syahid di medan Yarmuk. George bin Todzira hanya sempat melakukan satu kali shalat dalam hidupnya. Namun Allah memuliakannya dengan satu amal yang menghapus dosa masa lalunya — ia wafat sebagai syahid, setelah sebelumnya menjadi musuh Islam.
Benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya seseorang bisa beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dia dan neraka tinggal sehasta, lalu datanglah takdir Allah, ia beramal dengan amalan ahli surga, dan masuklah ia ke dalamnya.”
Dari seorang panglima Romawi, menjadi seorang hamba yang bersujud. George bin Todzira, lelaki yang hanya sempat shalat dua rakaat… namun Allah menulisnya sebagai penghuni surga


















